Breaking News
PLT Bupati Bekasi Dukung Proyek Perubahan AKBP Alin Kuncoro, Lahan Tidur Kawasan Industri Disasar untuk Ketahanan Pangan
AREA IKLAN 728 × 90
Beranda » BISNIS
BISNIS

Lahan Menganggur di Kawasan Industri Bekasi Bakal Produktif, Alin Kuncoro Dorong Program Jagung dan Lele untuk Buruh Korban PHK

BEKASI — zonabekasi.id – Persoalan pengangguran dan kebutuhan penguatan ketahanan pangan di Kabupaten Bekasi mendorong lahirnya kolaborasi lintas sektor. Salah satu langkah yang mulai dikembangkan adalah memanfaatkan lahan yang belum digunakan di kawasan industri untuk budidaya jagung dan ikan lele, sekaligus membuka peluang usaha bagi buruh terdampak pemutusan hubungan kerja (PHK).

Gagasan tersebut mengemuka dalam peluncuran kesepakatan bersama untuk mendukung program ketahanan pangan di kawasan industri Kabupaten Bekasi, yang berlangsung di Kantor Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi, Cikarang Pusat, Selasa (29/9/2026).

Program ini melibatkan kepolisian, Pemerintah Kabupaten Bekasi, pengelola kawasan industri, serta serikat pekerja. Kepala Bagian Operasi Polres Metro Bekasi, AKBP Alin Kuncoro, S.Pd., menjadi salah satu pihak yang mendorong pengembangan program tersebut sebagai bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat dan penguatan keamanan serta ketertiban masyarakat (kamtibmas).

Konsep yang diusung cukup sederhana, tetapi membutuhkan komitmen bersama: lahan yang belum dimanfaatkan pemilik kawasan dapat digunakan untuk kegiatan produktif melalui kesepakatan, sementara masyarakat yang belum bekerja diberi kesempatan terlibat dalam aktivitas pertanian dan perikanan.

Bukan Sekadar Ketahanan Pangan

Program ini tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan komoditas pangan, tetapi juga memberikan alternatif penghasilan bagi masyarakat yang terdampak persoalan ketenagakerjaan.

Budidaya lele menjadi salah satu kegiatan yang mulai dijalankan oleh kelompok pekerja. Sementara itu, sektor pertanian melalui penanaman jagung turut diproyeksikan sebagai bagian dari pengembangan ketahanan pangan di lingkungan kawasan industri.

Bagi buruh yang kehilangan pekerjaan, kegiatan tersebut diharapkan dapat menjadi jalan untuk kembali produktif. Dengan dukungan benih, pakan, pendampingan, serta akses lahan, usaha budidaya berpotensi dikembangkan menjadi sumber penghasilan yang berkelanjutan.

Namun, keberhasilan program tidak cukup hanya dengan menyediakan lahan. Ketersediaan air, biaya operasional, keterampilan budidaya, dan pemasaran hasil produksi juga menjadi faktor yang harus disiapkan sejak awal.

Dinas Pertanian dan Perikanan Siapkan Dukungan

Sekretaris Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi, Nayu Kulsum, S.P., M.Si., menyampaikan dukungan terhadap pengembangan ketahanan pangan melalui pelatihan dan penyuluhan kepada masyarakat.

Salah satu komoditas yang menjadi perhatian adalah jagung. Dukungan teknis dari pemerintah daerah diharapkan dapat membantu kelompok pelaksana meningkatkan kemampuan dalam mengelola lahan dan menjalankan kegiatan pertanian secara tepat.

Dukungan juga datang dari perwakilan Dinas Perikanan Kabupaten Bekasi yang menyatakan kesiapan membantu penyediaan benih dan pakan ikan. Bantuan tersebut diharapkan dapat menjawab sebagian kebutuhan kelompok pembudidaya lele yang masih menghadapi keterbatasan sarana produksi.

Sinergi antarinstansi menjadi penting agar program tidak berhenti pada tahap pencanangan, tetapi berkembang menjadi kegiatan ekonomi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Kawasan Industri Siapkan Lahan, Air Masih Jadi Tantangan

Keterlibatan pengelola kawasan industri menjadi salah satu kunci dalam pelaksanaan program. Perwakilan kawasan Deltamas menyampaikan bahwa pihaknya telah menyediakan lahan sekitar 1,5 hektare untuk mendukung kegiatan tersebut.

Meski demikian, persoalan ketersediaan air masih menjadi kendala yang perlu diselesaikan. Kondisi ini menjadi pengingat bahwa pemanfaatan lahan harus dibarengi dengan perencanaan teknis agar kegiatan pertanian dan perikanan dapat berjalan secara berkelanjutan.

Perwakilan kawasan Lippo turut menyambut baik inisiatif tersebut dan menyatakan dukungan sesuai kapasitas perusahaan.

Dukungan pengelola kawasan diharapkan tidak hanya berupa penyediaan lahan, tetapi juga berkembang melalui koordinasi mengenai fasilitas pendukung, pengelolaan kegiatan, dan keberlanjutan program.

Pemanfaatan lahan pun perlu didasarkan pada kesepakatan yang jelas dengan pemilik atau pengelola, termasuk mengenai jangka waktu penggunaan dan rencana pemanfaatan lahan apabila nantinya dibutuhkan untuk kegiatan utama kawasan industri.

Buruh Korban PHK Butuh Dukungan Nyata

Bagi serikat pekerja, program budidaya lele menjadi salah satu alternatif untuk membantu anggota yang kehilangan pekerjaan.

Perwakilan serikat pekerja mengungkapkan bahwa kelompok mereka telah menjalankan budidaya lele, meskipun menghadapi keterbatasan air. Di tengah berbagai kendala tersebut, ikan yang dipelihara masih dapat bertahan hidup.

Persoalan berikutnya adalah keterbatasan benih dan pakan. Kondisi itu membuat dukungan pemerintah dan pihak pengelola kawasan sangat dibutuhkan agar kegiatan budidaya dapat berkembang.

Program ini diharapkan mampu menjadi ruang bagi buruh terdampak PHK untuk membangun usaha bersama. Dengan demikian, mereka tidak hanya menunggu tersedianya lowongan pekerjaan, tetapi juga memiliki peluang menciptakan sumber penghasilan melalui kegiatan produktif.

Meski begitu, efektivitas program perlu dilihat dari hasil nyata, mulai dari jumlah pekerja yang terlibat, keberhasilan produksi, pendapatan kelompok, hingga kemampuan usaha bertahan dalam jangka panjang.

Pengangguran dan Kamtibmas Jadi Perhatian

Dalam pertemuan tersebut, perwakilan Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Bekasi menilai program ketahanan pangan dapat menjadi salah satu upaya pemberdayaan masyarakat untuk mendukung pengurangan pengangguran.

Dalam paparan yang disampaikan, disebutkan angka pengangguran sekitar 140 ribu orang dengan persentase 8,78 persen. Angka tersebut perlu dicocokkan kembali dengan data resmi dan periode statistik yang digunakan.

AKBP Alin Kuncoro menekankan pentingnya sinergi antara kepolisian, pemerintah daerah, pengelola kawasan industri, dan serikat pekerja untuk memastikan program berjalan sesuai tahapan.

Menurutnya, program tersebut perlu dikaji dan dievaluasi agar kolaborasi yang dibangun benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat. Keterlibatan kepolisian juga berkaitan dengan upaya menjaga kamtibmas melalui pendekatan yang menyentuh aspek sosial dan ekonomi.

Logikanya, ketika masyarakat memiliki kesempatan bekerja dan memperoleh penghasilan, aktivitas ekonomi produktif dapat tumbuh. Hal itu diharapkan ikut mendukung terciptanya lingkungan yang lebih kondusif, meskipun dampaknya terhadap situasi keamanan tetap perlu dinilai berdasarkan kondisi dan data di lapangan.

Keberhasilan Tidak Cukup dengan Kesepakatan

Kolaborasi ketahanan pangan di kawasan industri Kabupaten Bekasi menawarkan peluang untuk menghubungkan tiga kepentingan sekaligus, yakni pemanfaatan lahan yang belum produktif, pemberdayaan buruh terdampak PHK, dan penguatan ketahanan pangan.

Budidaya jagung dan lele menjadi langkah awal yang dapat dikembangkan apabila mendapat dukungan konsisten dari seluruh pihak.

Tantangan yang dihadapi juga tidak ringan. Ketersediaan air, benih, pakan, kepastian penggunaan lahan, pendampingan teknis, dan pemasaran hasil produksi harus menjadi agenda bersama.

Karena itu, keberhasilan gagasan yang didorong AKBP Alin Kuncoro tersebut nantinya akan ditentukan oleh implementasi di lapangan, bukan semata-mata oleh kesepakatan yang telah diluncurkan.

Jika mampu berjalan secara berkelanjutan, program ini berpotensi menjadi salah satu model pemberdayaan masyarakat di tengah kawasan industri, sekaligus membuka peluang ekonomi bagi buruh yang belum bekerja dan memperkuat upaya menjaga stabilitas kamtibmas di Kabupaten Bekasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga